Payung yang Diciptakan Kekeyi

Diposting pada

Oleh Umi Uswatun Hasanah*

Perempuan seringkali digunakan oleh para kapitalis untuk mengeruk keuntungan. Mereka “meminjam” tubuh perempuan agar menarik produk yang sedang dipasarkan. Melalui media, tubuh perempuan diposisikan sebagai ornamen yang seolah dapat dipoles sesuai standar.

Sehingga, tubuh perempuan pun mengalami komodifikasi; berubah dari nilai guna menjadi nilai tukar. Komodifikasi terhadap tubuh perempuan seringkali dilihat dari dua sisi, sebagai objek atau subjek. Perempuan yang mengalami objektivitas atas tubuhnya cenderung dianggap lemah dan tidak memiliki kekuatan. Sebab, ia menjadi korban komodifikasi lantaran tubuhnya terus dieksploitasi oleh pihak lain. Sedangkan sebagai subjek, perempuan bebas atas tubuhnya sendiri. Mereka secara sadar membentuk tubuhnya lebih dari sekadar nilai guna.

Dulu, di era 70-an, perempuan dianggap cantik ketika memiliki tubuh yang kurus, kulit berwarna gelap, dan payudara kecil. Sementara di era 80-an, standar kecantikan perempuan bergeser pada payudara yang besar. Sehingga, keseksian ditonjolkan. Sedangkan sekarang, di era 2000-an, “simbol cantik” melekat pada perempuan yang memiliki tubuh ideal, payudara edang, putih, halus dan rambut hitam lurus. (Rendra: 2006).

Melihat realitas ini, Evelyn Reed lebih tertarik menggunakan analisis kelas. Reed berpendapat bahwa tidak semua perempuan sama-sama ditindas oleh laki-laki. Atau tidak ada laki-laki yang ditindas oleh perempuan. Dalam sistem kapitalis, perempuan borjuis mampu menindas laki-laki dan perempuan proletar. Sebab, uang seringkali dijadikan sebagai alat kuasa.

Tidak hanya itu, kapitalis juga pelan tapi pasti mampu menanamkan ideologinya pada masyarakat luas. Jika menilik kasus Conten Creator Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka yang akrab disapa Kekeyi, penindasan berupa perundungan tidak hanya dilemparkan oleh perempuan atau laki-laki borjuis. Namun, nyaris semua lapisan masyarakat yang termakan standar yang diciptakan oleh kapitalis. Mereka melemparkan komentar negatif kepada tubuh Kekeyi. Perundungan pun semakin menjadi ketika Kekeyi merilis lagu yang bertajuk “Keke Bukan Boneka”.

Kolom komentar di kanal YouTube Kekeyi ramai dengan perundungan. Perundungan yang dilemparkan pun tidak main-main. Warganet seolah merasa mereka berhak untuk merundung. Lantaran Kekeyi dianggap lebih buruk dari mereka. Warganet meninggalkan komentar yang bernada negatif seperti:

“Apa cmn gw yg berasa jijik gtu yah,?( g suka komen aku, g ush rebut)”

“Mending gue melarat dr pd harus pcrn ma kekeyi siksa batin sdh tak sedap di pandang sok imut pembohong lagi..”

“Serem anjir gw liat kekeyi”

Perundungan dianggap halal lantaran lagu Kekeyi diduga menjiplak lagu “Aku Bukan Boneka” milik Rini Wulandari. Penjiplakan ini pun membuat pengamat musik Bens Leo angkat bicara. Menurutnya, Kekeyi berpotensi masuk ke ranah hukum. Lagu Kekeyi disebut-sebut melanggar Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014.

Penjiplakan memang salah kaprah. Tetapi, apakah merundung menjadi jalan keluar yang tepat?

Terlepas dari persoalan penjiplakan ini, mari kita renungkan dan pelajari, sahabat. Bagaimana Kekeyi menciptakan ruang–menjadikan tubuhnya sebagai komdofikasi, di antara pengapnya upaya kapitalis untuk mengeruk keuntungan; mengumpulkan cuan dan menanamkan ideologi kepada seluruh masyarakat. Pasalnya, jangan-jangan, Kekeyi lebih jeli dari kapitalis di sekitar kita.

Kekeyi Membaca Tubuhnya Sendiri

Jika melihat dua sisi komodifikasi terhadap tubuh perempuan, Kekeyi menjadikan tubuhnya sebagai subjek sekaligus objek. Sebagai subjek, dari 158 video di kanal YouTube Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka, Kekeyi mampu membranding diri sebagai beauty vlogger, food vlogger, dan content creator YouTuber seperti lazimnya.

Debut Kekeyi di YouTube dimulai dari video bertajuk “make up pemula”. Per 13 Juni 2020, video tersebut sudah ditonton sebanyak 527K. Kekeyi mendapat like sebanyak 6,1K dan dislike 5K. Kendati mendapat dislike sebanyak itu, Kekeyi seolah tidak peduli dan memilih menutup mata. Ia mematikan kolom komentarnya. Sebab, layaknya kapitalis, Kekeyi lebih memilih melihat cuan, ketimbang ambil pusing menerima komentar negatif.

Pasalnya, YouTube akan memberikan cuan pada video yang traffic-nya tinggi. Sebenarnya, video debut Kekeyi hanya tutorial make up biasa. Kekeyi menampilkan bagaimana cara perempuan merias wajah. Ia menggunakan pelembab, bedak, blas on, eye liner, dan lainnya.

Tetapi, Kekeyi menggunakan make up yang harganya sangat minimalis. Dalam hal harga, Kekeyi berpihak pada kaum proletar; ingin cantik sesuai kantong. Barangkali, itulah kenapa Reed berpesan bahwa kaum proletar laki-laki maupun perempuan harus bersatu.

Salah satu konten yang membuat Kekeyi viral adalah video bertajuk “25k makeup challenge”. Kekeyi menggunakan balon berisi air sebagai spons. Yang kemudian challenge tersebut diikuti oleh beauty vlogger lain. Alhasil, Kekeyi diundang beragam media lantaran dianggap sebagai beauty vlogger fenomenal. Pada momentum ini, Kekeyi satu langkah lebih maju dari kapitalis.

Sebab, seringkali para kapitalis melakukan komodifikasi terhadap tubuh perempuan yang memiliki standar kecantikan sesuai zamannya. Kendati demikian, Kekeyi optimis dengan tubuhnya yang dibiarkan “apa adanya”. Ia tetap menjadi beaty vlogger meski tidak patuh pada standar kecantikan yang berlaku. Bahkan, dalam sebuah acara di stasiun televisi, Kekeyi mengaku cuek pada komentar warganet yang bermuatan negatif pada tubuhnya. Ia seolah menerabas melawan semboyan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking”.

Sementara itu, sebagai objek, dalam kanal YouTubenya Kekeyi juga menerima endorse skin care. Artinya, tubuh Kekeyi juga dimanfaatkan oleh pihak lain untuk meramaikan produknya.

Boleh saja kita sepakat kalau penggunaan skin care adalah salah satu bentuk merawat diri. Namun, skin care yang bisa mengubah warna kulit semula hitam menjadi putih, juga bentuk mengikuti standar kecantikan yang dipatok oleh kapitalis.

Adanya Kekeyi menjadi bukti bahwa perempuan juga bisa membaca tubuhnya. Ia mampu mengeksplorasi tubuhnya untuk kejenakaan yang menguntungkan, mampu melihat peluang.

Saya jadi ingat pesan Su Negrin, ia berkata “tidak ada payung politik yang dapat memenuhi semua kebutuhan saya”. Maka, kalau Kekeyi mencoba untuk memenuhi kebutuhan sebagai beauty vlogger yang kadang mengikuti standar, kadang tidak. Itulah cara Kekeyi mencari lebih banyak payung.

*) Umi Uswatun Hasanah, mahasiswi partikelir yang suka menghayal dan mangkir dari takdir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *